Usulan Gerbong Wanita Tuai Kritik, Men PPPA Sampaikan Penyesalan

JAKARTA – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, akhirnya angkat bicara menyikapi polemik yang muncul usai usulannya terkait penataan posisi gerbong khusus wanita di Kereta Rel Listrik (KRL). Usulan yang menyarankan pemindahan lokasi gerbong ke bagian tengah rangkaian demi alasan keamanan itu ternyata menuai beragam tanggapan tajam dari berbagai pihak. Merespons kritik yang berkembang, Arifah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Ia menegaskan bahwa gagasan tersebut murni dilatarbelakangi oleh keprihatinan mendalam demi meningkatkan rasa aman bagi kaum perempuan, namun dinilai kurang tepat dalam penyampaian maupun substansinya. “Kami memohon maaf apabila usulan yang disampaikan sebelumnya menimbulkan kesalahpahaman atau justru menimbulkan keresahan baru. Niat awalnya semata-mata ingin memberikan perlindungan maksimal bagi penumpang wanita,” ujarnya. Keputusan untuk meminta maaf ini tak lepas dari masukan yang masuk, termasuk pandangan kritis dari kalangan legislator yang menilai bahwa solusi keamanan tidak cukup hanya dengan memindahkan posisi duduk penumpang. Banyak pihak menyoroti bahwa akar masalahnya justru terletak pada standar keselamatan sarana dan prasarana transportasi yang harus diperbaiki secara menyeluruh. Arifah mengaku siap menampung seluruh masukan dan berkomitmen untuk berkoordinasi lebih lanjut dengan kementerian terkait, khususnya Kemenhub dan pihak operator kereta api, demi mencari formula terbaik yang benar-benar menjamin keselamatan seluruh penumpang tanpa terkecuali. “Kami terbuka untuk didialogkan. Yang terpenting bukan soal posisi gerbong, melainkan bagaimana memastikan seluruh pengguna transportasi publik merasa aman dan nyaman di mana pun mereka berada,” tegasnya.
Nur