Pindah Gerbong Wanita Dinilai Kosmetik, PDI-P Minta Perbaiki Sistem

JAKARTA – Usulan pemindahan posisi gerbong khusus wanita ke bagian tengah rangkaian dinilai bukanlah solusi yang tepat sasaran. Anggota Fraksi PDI-P di Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina, menegaskan bahwa langkah tersebut hanya bersifat temporer dan tidak menyentuh akar masalah. Menurutnya, kebijakan yang digagas Menteri PPPA, Arifah Fauzi, ini berpotensi menimbulkan persepsi bahwa keselamatan kelompok lain dikorbankan demi melindungi kelompok tertentu. Padahal, standar keamanan transportasi publik seharusnya berlaku sama untuk seluruh penumpang tanpa terkecuali. “Solusi yang benar adalah memperbaiki sistem, bukan sekadar menggeser posisi penumpang. Akar persoalannya bukan di mana perempuan duduk, melainkan bagaimana sistem keamanan jalur dan kereta itu sendiri,” ujar Selly kepada awak media, Rabu (29/4/2026). Politisi PDI-P ini menekankan, relokasi gerbong boleh saja dilakukan sebagai upaya mitigasi sesaat, namun tidak boleh dijadikan jawaban akhir. Jika sistemnya sudah kuat dan modern, posisi gerbong di ujung maupun di tengah seharusnya memiliki tingkat keamanan yang setara. “Jangan sampai muncul logika pengorbanan, seolah-olah ada pihak yang dijadikan tameng risiko. Keselamatan publik tidak boleh diskriminatif,” tegasnya. Lebih jauh, Selly memaparkan tiga hal mendesak yang harus dilakukan pemerintah. Pertama, melakukan evaluasi total terhadap infrastruktur, mulai dari sistem persinyalan, ketahanan badan kereta, hingga prosedur tanggap darurat. Kedua, perlindungan terhadap perempuan dan kelompok rentan harus diwujudkan melalui fasilitas pendukung yang komprehensif, seperti sistem penanganan darurat dan kehadiran petugas keamanan, bukan hanya sekadar pemisahan ruang. Terakhir, insiden kecelakaan yang baru saja terjadi di Bekasi Timur harus menjadi titik balik untuk reformasi sistem transportasi nasional. Negara dituntut hadir bukan dengan memindahkan penumpang dari zona bahaya, melainkan dengan menghilangkan sumber bahaya itu sendiri. “Yang dibutuhkan adalah memastikan seluruh bagian kereta aman. Ujung aman, tengah aman, semua aman. Itulah esensi kehadiran negara yang sesungguhnya,” pungkasnya.*
N.Tanjung